AKHLAK MULIA SEBAGAI TUJUAN HIDUP

Mati itu pasti terjadi sedangkan sukses belum tentu. Namun kematian tidak bisa dipastikan kapan terjadinya, sedangkan sukses bisa direncanakan. Yang menjadi persoalan ialah kita terkadang terlalu asyik merencanakan dan memperjuangkan kesuksesan sehingga melupakan kematian. Idealnya ialah orang yang berjuang mencapai kesuksesan namun juga selalu mempersiapkan diri untuk selalu siap menerima kematian. Sabda Baginda Rasulullah SAW: beribadahlah kalian seolah-olah akan mati besok pagi, dan bekerjalah kalian seolah-olah akan hidup 1000 tahun lagi. Jadi harus ada keseimbangan antara meraih sukses dunia dan meraih sukses akhirat.

Apa yang terpenting dalam hidup ini? Akhlak yang mulia (akhlakul kharimah). Dengan kemuliaan akhlak maka manusia akan selalu dekat dengan Tuhan. Cara yang paling mudah untuk menggapai kemuliaan akhlak ialah senantiasa sabar, ikhlas dan bersyukur. Sabar menerima ujian Allah, ikhlas melaksanakan perintah Allah, dan selalu mensyukuri nikmat Allah sekecil apapun.

Manusia nampak perkasa karena kulit luarnya. Inilah POTENSI KESOMBONGAN akibat tingginya ke-AKU-an. Mulutnya mengatakan Tuhan itu ada namun perilakunya menggambarkan seolah-olah Tuhan itu tidak ada. Ini adalah akibat Kesombongan Otak dalam bentuk pola pikir, sehingga manusia merasa kuat, merasa hebat, merasa pintar, dan sejenisnya. Inilah bentuk cara pikir manusia yang tidak dikendalikan oleh hati nurani, sehingga yang muncul adalah HAWA NAFSU DUNIAWI. Cara pikir yang demikian ini yang menjauhkan manusia dari Tuhan.

Sebaliknya, adalah pola pikir yang positif, yaitu pola pikir yang dilandasi oleh kerendahan hati. Tanda-tandanya ialah: Optimistik, bersahaja atau apa adanya, sabar, ikhlas, bersyukur, dan sebagainya. Inilah buah dari hati nurani yang menggerakkan pikiran, sehingga yang muncul adalah NAFSUL MUTHMA’INAH yaitu jiwa yang tenang yang akan masuk Surga (QS Al Fajar ayat 27 sampai 30). Ciri khasnya ialah pribadi yang rendah hati atau manusia yang menyenangkan bagi banyak orang. Pribadi yang senantiasa merasa kecil di hadapan Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan adalah penentu segala hal dalam hidupnya.

Pakaian itu hanyalah hiasan hidup untuk menutup aurat agar manusia berbeda dengan hewan. Pakaian juga dapat disebut sebagai hiasan kemartabatan duniawi. Namun seringkali kesombongan manusia justru muncul dari hiasan duniawi ini.

Semua gerak hidup manusia sangat tergantung pada: aliran darah, saluran pernafasan, saluran pemasukan & pembuangan, dan jaringan syaraf. Meskipun semuanya merupakan organ vital, Tuhan menyembunyikan letaknya sehingga manusia nampak indah. Tuhan menyembunyikan semua organ vital manusia sehingga manusia nampak indah dan cantik dilihat. Inilah pelajaran penting yang maknanya ialah bahwa terkadang  sesuatu yang penting itu tidak harus nampak di permukaanJantung merupakan organ vital manusia  yang menentukan hidup dan matinya manusia, namun jantung tidak pernah menampakkan dirinya (tanda-tanda atau sifat ikhlas)

Sebagai uraian penutup, berikut disampaikan sebuah renungan yang mungkin bermanfaat bagi kita semua, yaitu:

  1. Dunia indah bukan karena dunia berubah menjadi indah tetapi karena kita memandang, mengerjakan dan mensyukurinya dengan cara yang indah
  2. JANGAN MEMBENARKAN HAL-HAL YANG BIASA DILIHAT, TETAPI BIASAKANLAH MELIHAT HAL-HAL YANG BENAR

Yogyakarta, 10 Juni 2016

KILAS SEJARAH BERDIRINYA FORUM PENDIDIKAN TINGGI VOKASI INDONESIA

Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI – semula bernama Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia) resmi berdiri pada tanggal 28 Oktober 2014, yaitu saat diselenggarakannya Kongres I di Sekolah Vokasi UGM, Sekip, Yogyakarta.

Forum ini diinisiasi oleh 5 Universitas penyelenggara pendidikan vokasi, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universtas Brawijaya, dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Berdirinya FPTVI ini diawali dari penyelenggaraan Lokakarya tentang “Penegasan Pendidikan Vokasi Sesuai UU No 12 Tahun 2012” tanggal 3 April 2014, di Sekolah Vokasi UGM, yang dihadiri oleh berbagai universitas negeri di Indonesia. Atas prakarsa Direktur Sekolah Vokasi UGM saat itu (Ir. Hotma Prawoto S, MT., IP-Md) perwakilan dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universtas Brawijaya, dan Universitas Negeri Yogyakarta diminta menghadiri pertemuan khusus di Ruang Sidang SV 138 untuk membicarakan inisisasi pendirian Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia.

Pertemuan ini menghasilkan 4 butir Nota Kesepakatan Bersama yaitu:

  1. Membentuk Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (Forkom PTVI)
  2. Melakukan koordinasi awal dengan semua Pendidikan Tinggi Vokasi yang dikoordinasi oleh Sekolah Vokasi UGM
  3. Tujuan pembentukan forum komunikasi ini antara lain:
    • Mensinergikan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi vokasi di berbagai universitas/institut di Indonesia
    • Memperjuangkan nomenklatur institusi penyelenggara pendidikan tinggi vokasi di Universitas/Institut di Indonesia
    • Mengusulkan kepada BAN PT untuk melakukan penyesuaian borang akreditasi yang cocok dengan ciri dan pola pendidikan tinggi vokasi
    • Sharing penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi di berbagai universitas/institut di Indonesia khususnya dalam rangka turut memberikan solusi bagi penyelesaian masalah-masalah bangsa
  4. Menyelenggarakan pertemuan/musyawarah nasional pendirian Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (Forkom PTVI) selambat-lambatnya pada bulan September 2014 di UGM Yogyakarta.

Kesepakatan ini ditandatangani oleh:

  1. Hotma Prawoto, MT., IP-Md (Universitas Gadjah Mada)
  2. Antony Sihombing, MPD, Ph.D (Universitas Indonesia)
  3. Wawan Oktariza, M,Si (Institut Pertanian Bogor)
  4. Dwi Rahdiyanta, M.Pd (Universitas Negeri Yogyakarta)
  5. Efraim Luturmas, MM (Universitas Brawijaya)

Selanjutnya, sebelum pelaksanaan Kongres I ini dilakukan koordinasi yang disebut sebagai pertemuan pra kongres. Pra Kongres I ini diadakan di Program Vokasi Universitas Indonesia, dengan dihadiri semua perwakilan dari UGM, UI, IPB, UB, dan UNY,

Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2014, dengan dukungan dari semua pemrakarsa/inisiator ini, Sekolah Vokasi UGM berhasil menyelenggarakan Kongres I, dengan hasil-hasil sebagai berikut:

  1. Masa Bakti Pengurus Forkom PTVI adalah 1 tahun
  2. Intitusi penyelenggara Kongres otomatis menjadi Pemimpin Forkom PTVI (Ketua dan Sekjen)
  3. Wakil Ketua dipilih dari pimpinan institusi penyelenggara kongres berikutnya
  4. Dari kongres ke kongres berikutnya minimal diadakan 1 kali pertemuan dalam bentuk rapat kerja
  5. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dibahas dan disahkan dalam Rapat Kerja 2015 yang akan diselenggarakan di Lombok Utara
  6. Hasil kongres I ini disampaikan kepada Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi sebagai bentuk kemitraan antara Forkom PTVI dan Kementerian Ristek dan Dikti
  7. Susunan Pengurus Forkom PTVI 2014-2015:
    • Ketua             : Ir. Hotma Prawoto S, MT. IP-Md (UGM)
    • Wakil Ketua : Prof. Dr. Munir (UB)
    • Sekjen           : Ir. Wikan Sakarinto, MT. Ph.D (UGM)
    • Bendahara   : Ir. Antony Sihombing, MPD, Ph.D (UI)

mb_kongnasvok-3Foto Bersama para Peserta Kongres I di depan Gedung Perpustakaan SV UGM

Disadur dari Laporan Pertanggung Jawaban Ketua Forum PTVI pada Kongres II FPTVI di Universitas Brawijaya Malang, 28 Oktober 2015

BERSINERGI LEBIH BAIK DARIPADA BERKOMPETISI

Secara garis besar, terdapat 3 tantangan yang harus dihadapi oleh Bangsa Indonesia terkait dengan bidang Sumber Daya Manusia, yaitu:

  1. Integrasi Ekonomi Regional (MEA/ASEAN Economic Community) Tahun 2015
  2. Visi ASEAN 2020
  3. Orientasi Pendidikan Tinggi di Indonesia

Di dalam Integrasi Ekonomi Regional Tahun 2015, terdapat 4 karakter kunci yang akan dibangun oleh Masyarakat Ekonomi ASEAN Tahun 2015, yaitu:

  1. pasar dan basis produksi tunggal,
  2. wilayah ekonomi yang sangat kompetitif,
  3. wilayah pembangunan ekonomi yang merata, dan
  4. kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global.

Visi ASEAN 2020 juga mengisyaratkan 3 hal yang perlu difahami dan disadari bersama, yaitu:

  1. menciptakan Kawasan Ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi yang ditandai dengan
    • arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas,
    • arus lalu lintas modal yang lebih bebas,
    • pembangunan ekonomi yang merata, serta
    • mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi,
  2. mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan
  3. meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan.

Di sisi lain, orientasi pendidikan kita mengisyaratkan 3 hal penting yang benar-benar merupakan kondisi yang harus dibenahi secara sistematik, yaitu:

  1. Masih terlalu banyaknya lulusan perguruan tinggi jalur sains dibanding jalur keahlian
  2. Tuntutan masyarakat yang semakin meningkat akibat pesatnya perkembangan iptek
  3. Profesionalisme sebagai perwujudan keahlian berbasis kompetensi à sertfikasi keahlian

Terkait dengan kondisi-kondisi di atas, perlu pemaknaan lebih mendalam lagi tentang pentingnya sinergisitas antara penyelenggara Pendidikan Tinggi dengan Assosiasi Profesi/Keahlian. Sinergisitas ini harus dibangun dalam suatu kerangka kebersamaan di dalam mewujudkan kedaulatan bangsa di bidang sumber daya manusia. Mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan, yang merupakan karakter kunci yang akan dibangun di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, harus dimaknai sebagai sebuah tantangan yang perlu dihadapi bersama secara strategis dan komprehensif.

Keahlian itu pada hakikatnya adalah perkalian dari informasi, pengalaman, dan sikap. Informasi adalah ilmu pengetahuan atau wawasan akademik (Hotma, 2010). Jika salah satu saja nol (tidak ada) maka sesungguhnya yang bersangkutan tidak memiliki keahlian. Jadi hakikatnya yang dimaksud dengan keahlian itu ialah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dengan sikap yang benar. Di sinilah pendidikan vokasional memiliki peluang untuk meramunya. Pendidikan vokasional itu dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penerapan ilmu untuk menyelesaikan problem secara praktis namun sistematik dan terukur.

Pendidikan Vokasi bukanlah merupakan penggalan pendidikan akademik namun merupakan pendidikan keahlian yang utuh, komprehensif dan terstruktur (Hotma, 2013). Komposisi pembelajaran pendidikan vokasional yang menitik beratkan pada kemampuan skill yang terwujud dalam proporsi, 40% teori dan 60% praktik, diyakini akan menjadi sebuah pendidikan keahlian yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mampu memenagkan persaingan global. Produk pendidikan vokasional akan menjadi lengkap, bilamana dalam aplikasinya menggunakan; penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge), pengalaman (tacit), dan sikap (attitude) dalam komposisi yang proporsional. Otak dan hati adalah dua unsur utama pembentuk keahlian dan ketrampilan motorik manusia perlu diasah dan dididik untuk menghasilkan softskill dan hardskill melalui pembelajaran dari alam (nature), pengetahuan (knowledge), dan persoalan (problems). Ini merupakan inti dari proses pembelajaran manusia menjadi ahli (Hotma, 2010). Jika ilmu pengetahuan yang aspek akademisnya sangat tinggi ini diimplementasikan melalui aplikasi yang terstruktur dan komprehensif, maka tidak membutuhkan waktu yang lama bangsa ini akan mendapatkan kedaulatannya yang saat ini hilang. Di sinilah posisi strategis pendidikan vokasional di dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia demi Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Posisi strategis ini tidak akan ada manfaatnya jika tidak diikuti dengan perlindungan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh Sumber Daya Manusia Indonesia. Oleh sebab itu sertifikasi keahlian menjadi sangat penting. Sertifikasi keahlian ini harus dimaknai sebagai perlindungan terhadap Sumber Daya Manusia Indonesia khususnya di dalam menghadapi persaingan global baik yang diisyaratkan di dalam integrasi ekonomi 2015 (MEA) maupun Visi ASEAN 2020. Tanpa sertifikasi ini maka pada hakikatnya SDM Indonesia tidak memiliki perlindungan dari arus pergerakan tenaga profesional secara bebas di kawasan.

Sehubungan dengan hal tersebut, peranan Asosiasi Profesi/Keahlian menjadi sangat penting. Namun demikian, yang lebih penting lagi adalah sinergisitas antara Asosiasi Profesi, Konsorsium Keilmuan, dan Penyelenggara Pendidikan Keahlian. Ketiga unsur ini harus menjadi kesatuan yang utuh di dalam menetapkan dan meningkatkan kompetensi bidang-bidang keahlian yang menjadi tanggung-jawabnya. Sinergisitas ketiga unsur tersebut secara otomatis akan memberikan perlindungan terhadap hak-hak SDM yang berada di dalam organisasinya. Namun demikian patut disayangkan Segelintir orang di negeri ini terlalu asyik memerangi dan memusuhi bangsanya sendiri. Karena keasyikannya ini mereka menjadi tidak menyadari bahwa musuh utamanya adalah bangsa lain. Jika ini tidak disadari, berkah demografi yang dimiliki oleh bangsa ini akan menjadi bencana demografi.

Asosiasi Profesi, Konsorsium Keilmuan, dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi, mutlak harus mulai gotong-royong membangun kemartabatan Sumber Daya Manusia Indonesia, paling tidak di negerinya sendiri. Bangsa ini harus mulai menyadari bahwa bersinergi itu lebih baik daripada berkompetisi. Kedaulatan bangsa ini tidak akan pernah terwujud tanpa suatu kesadaran bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, yang sangat sulit ditundukkan oleh bangsa lain di dunia ini jika kita bersatu.

Standarisasi yang saat ini didominasi oleh kepentingan-kepentingan bisnis negara-negara lain yang merasa dirinya kuat harus mulai dikaji lebih mendalam oleh ketiga unsur tadi. Masih banyak standar-standar baik produksi maupun kompetensi keahlian, yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Akibatnya ketergantungan kita terhadap bangsa lain menjadi semakin besar. Ini sangat ironis. Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia justru menjadi penonton di negerinya sendiri. Menjadi inferior di negerinya sendiri.

Inilah saatnya membangun negeri melalui sinergisitas yang komprehensif dan terstruktur, sehingga kedaulatan bangsa ini di segala bidang akan segera terwujud. Jika ada Asosiasi Profesi atau Konsorsium Keilmuan yang tidak mau bersinergi membangun negeri, maka sah-sah saja jika mereka ditinggalkan anggotanya, atau bahkan dibentuk assosiasi tandingan. Namun demikian ini preseden buruk bagi pengembangan keilmuan dan kompetensi keahlian. Di luar sana sinergisitas semacam ini sudah menjadi sebuah langkah politik suatu negara untuk masuk ke negara lain, sementara di Indonesia masih asyik dengan menjajah bangsa sendiri. Jika ini tidak segera diakhiri, maka saat bangsa lain “menguasai” negeri ini, kita hanya bisa gigit jari. Bangsa ini terlalu sering terlambat menyadari sesuatu karena asyik dengan “memusuhi” bangsa sendiri.

Pada tanggal 19 Mei 2015, Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (yang diprakarsai oleh Sekolah Vokasi UGM, Program Vokasi UI, Pendidikan Vokasi UB, Program Diploma IPB, dan Pendidikan Vokasi UNY), mendeklarasikan 3 butir kesepakatan tentang Sertifikasi Keahlian Sebagai Perlindungan SDM Indonesia dari Penetrasi Tenaga Kerja Asing di Era Masyarakat Ekonomi Asean (Deklarasi Depok 2015).

Deklarasi Depok 2015Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia dan Rektor UI didampingi oleh anggota Forum PTVI dalam Deklarasi Depok 2015

Berikut isi dari Deklarasi tersebut:

  1. Bahwa penyiapan Sumber Daya Manusia Indonesia yang memiliki daya-saing di Era Kesejagadan harus dimaknai sebagai upaya yang strategis dan komprehensif di dalam rangka mewujudkan kedaulatan bangsa di bidang ketenaga-kerjaan. Oleh sebab itu, perlu sinergisitas antara Pemerintah, penyelenggara pendidikan vokasional, assosiasi profesi, dan masyarakat industri, khususnya di dalam membangun dan mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia yang berbasis kompetensi dan sertifikasi, serta menerapkan sistem atau pendekatan pendidikan berbasis produk
  2. Bahwa Sertifikasi Keahlian harus selalu dimaknai sebagai salah satu bagian yang sangat penting dan strategis untuk menciptakan daya saing dan kemartabatan Sumber daya Manusia Indonesia di dunia. Oleh sebab itu, mutlak peran-serta dan dukungan Pemerintah di dalam program sertifikasi keahlian, khususnya yang diselenggarakan bersama antara penyelenggara pendidikan vokasional dan asosiasi keahlian/profesi
  3. Bahwa Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) harus selalu dimaknai sebagai penyelaras antara dunia pendidikan dengan dunia kerja di Indonesia. Oleh sebab itu perlu kesepahaman bersama antara penyelenggara pendidikan vokasional, dunia kerja, dan asosiai kehalian/profesi, di dalam penggunaan KKNI sebagai rujukan di dalam pemaknaan jenjang kompetensi keahlian

Saat ini, pendidikan vokasional bukan lagi pendidikan alternatif namun pendidikan yang paling strategis untuk meraih kedaulatan bangsa di bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Produk. Menginferiorkan pendidikan ini hanya akan memperbesar ketergantungan bangsa ini terhadap bangsa lain.

Yogyakarta, 14 Agustus 2015

PEMBESIAN STRUKTUR BETON

PERANAN PENTING PEMBESIAN DI DALAM STRUKTUR BETON

 

Beton adalah salah satu material pembentuk struktur yang sangat luas penggunaannya di dunia struktur dan konstruksi. Beton sendiri adalah material yang disusun oleh pasta semen dan agregat (halus dan kasar) dengan perbandingan tertentu dan cara-cara pengolahan tertentu pula. Dari bahan-susunnya, maka beton tidak memiliki kekuatan atau kemempuan menahan gaya tarik.

Sebagai material yang tidak tidak memiliki kemampuan menahan gaya tarik, maka peranan bajatulangan di dalam struktur beton sangat penting. Kemampuan bajatulangan yang sangat kuat terhadap gaya tarik adalah sebuah alasan yang mendasari mengapa bajatulangan menjadi elemen penting di dalam struktur beton (Gambar 1)

BajatulanganGambar 1. Fungsi bajatulangan di dalam elemen struktur beton

Di dalam melakukan rancangan pembesian elemen struktur beton, mutlak difahami regulasi dan/atau ketentuan-ketentuan lain yang terkait dengan perancangan struktur, terutama bagi struktur bangunan yang dibangun di daerah rawan gempa. Di daerah rawan gempa, perancangan pembesian ini menjadi sangat penting. Secara garis besar terdapat dua cara pendetilan elemen struktur di daerah rawan gempa, yaitu:

  1. Detil yang memungkinkan pembentukan sendi plastis pada lokasi tertentu guna meningkatkan disipasi enersi gempa (ketahanan terhadap gempa melalui mekanisme disipasi enersi)
  2. Detil yang mendasarkan pada konsep penyerapan enersi gempa dengan pemasangan devices (damper atau base isolator)

Meskipun saat ini sudah mulai banyak digunakan, perancangan detil yang mendasarkan pada konsep penyerapan enersi gempa relatif mahal dan melibatkan teknologi tinggi. Oleh sebab itu implementasinya tidak terlalu populer dibandingkan dengan detil yang mendasarkan pada konsep disipasi enersi gempa.

Perancangan detil berdasarkan mekanisme disipasi enersi gempa banyak dipilih sebagai disain alternatif yang relatif lebih murah dan lebih mudah dilaksanakan. Namun demikian, pembesian harus dirancang sedemikian rupa hingga bagian-bagian tertentu dari struktur beton ini mampu memencarkan energi gempa melalui mekanisme sendi plastis. Jadi harus dibuat detil pembesian yang memungkinkan pembentukan sendi plastis pada lokasi tertentu guna meningkatkan disipasi enersi gempa (ketahanan terhadap gempa melalui mekanisme disipasi enersi). Selain itu, perlu beberapa persyaratan kualitas pendetilan struktur (agar mekanisme sendi plastis benar-benar terjadi sesuai yang direncanakan), yaitu:

  1. Kuat tekan target beton (f’c) minimal 25 Mpa, dan homogenitasnya harus terjamin (khususnya pada join balok-kolom)
  2. Overstrength factor bajatulangan utama semua elemen struktur tidak boleh kurang dari 1.4
  3. Pendetilan sengkang (kualitas bahan dan bentuk sengkang) harus menjamin tidak terjadi gagal geser

 

Dari pengalaman mengajar struktur beton sejak tahun 1978 hingga saat ini, saya mencoba merangkai kembali naskah-naskah perkuliahan yang pernah saya buat, disesuaikan dengan regulasi yang berlaku. Untuk mendapatkan bahan tersebut (dalam format pdf). Naskah ini dibagi menjadi beberapa bagian (silakan klik pada topik yang dikehendaki), yaitu:

  1. Bajatulangan sebagai bahan bangunan
  2. Teknik Pembesian Pelat Beton
  3. Teknik Pembesian Balok Beton
  4. Teknik Pembesian Kolom Beton dan Join Balok-Kolom
  5. Teknik Pembesian Pelat Fondasi
  6. Dokumen Tugas dan Suplemen Khusus

Naskah-naskah di atas dipublikasikan melalui situs ini dengan tujuan membantu praktisi di dalam memahami dan merancang penulangan elemen struktur beton sesuai dengan regulasi yang berlaku. Mudah-mudahan bermanfaat

 

Tulisan ini saya dedikasikan kepada Ir. Harsojo D (Alm). Beliau adalah Guru yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Beliaulah yang membuat saya menyukai dan mencintai bidang teknik sipil. Melalui Beliau juga saya banyak mendapatkan bekal filosofi keteknik-sipilan, khususnya saat saya masih menjadi mahasiswa teknik sipil FT UGM. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi pahala bagi Beliau. Aamiin

HAKIKAT KESUKSESAN HIDUP

Di dalam hidup ini seringkali manusia terlalu memikirkan kebahagiaan dunia. Terkadang mereka mengejar rejeki dan harta sampai lupa bahwa sesungguhnya rejeki dan harta itu hanya sebagian kecil dari kemewahan dunia yang mungkin tidak memberi manfaat apa-apa terhadap kehidupan di akhirat. Rejeki dan harta yang dibelanjakan di jalan Allah sajalah yang akan bermanfaat bagi kehidupan di akhirat kelak.

Mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan, apalagi jika sampai melupakan hakikat hidup ini sebagai karunia Tuhan. Sesungguhnya yang perlu dipersiapkan oleh setiap manusia ialah menata dirinya agar layak diberi rejeki oleh Allah SWT. Jadi jangan sampai membiarkan diri kita mengejar rejeki, namun menata diri kita sehingga Allah menyayangi kita dan akhirnya rejeki yang mengejar kita.

Membandingkan apa yang telah kita miliki dengan yang dimiliki oleh orang lain adalah sebuah kebodohan. Mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita itulah yang yang terpenting, karena hanya dengan cara itulah maka kita dapat menikmati karunia Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Perlu juga dijadikan renungan bahwa orang kaya yang sesungguhnya itu bukanlah orang yang berhasil mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya melainkan mereka yang paling sedikit menggunakannya, sehingga masih sanggup memberi dan berbagi dengan sesama. Itulah kekayaan yang sebenar-benarnya, yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat kita.

Dunia ini hanya sementara saja. Jangan sampai kita terlalu dibebani oleh urusan dunia seperti: kaya, sukses, terkenal, dan sebagainya. Itu semua tidaklah penting karena sesungguhnya dunia ini adalah tempat kita berbuat baik. Berbuat baik, sabar, ikhlas, bersyukur, dan berserah diri, adalah ciri-ciri orang yang mencintai Allah SWT,

Jika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan mengujinya, Jika ia sabar maka Allah akan memilihnya. Jika ia ridho maka Allah akan mensucikannya.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

(Bahan renungan dan inspirator: H.Don – Medan)

 

 

SEKEDAR BERBAGI MASALAH KEPEMIMPINAN YANG SAYA KETAHUI

Kemampuan memimpin (leadership skill) dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang di dalam memotivasi, mengajak, dan/atau mendorong orang lain atau sekelompok orang untuk melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu yang telah disepakati.

Karakter Pemimpin (Leader) sangat berpengaruh terhadap kualitas kepemimpinan yang dijalankannya, sedangkan keberhasilan sebuah kepemimpinan ditentukan oleh kemampuan Pemimpin di dalam me-manage kelompoknya (managerial skill).

Terdapat 3 hal pokok yang mempengaruhi kualitas dan keberhasilan sebuah Kepemimpinan, yaitu:

  1. Strategi di dalam mencapai visi (tujuan organisasi)
  2. Organisasi (pengorganisasian dan staffing)
  3. Dukungan kelompok atau orang-orang yang dipimpin

Ketiga hal ini saling terkait sehingga Pemimpin harus benar-benar dapat membangun sinergisitas semua unsur di dalam kelompok yang dipimpinnya.

Selain itu, diperlukan persyaratan Pemimpin di dalam suatu organisasi yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap karakter dan kesuksesan kepemimpinan seseorang. Persyaratan tersebut ialah: visioner, organisator dan motivator.

  1. Visioner, artinya memiliki kemampuan untuk melihat visi (tujuan jangka panjang) dan merumuskan strategi pencapaiannya ke dalam misi (tujuan jangka menengah dan jangka pendek) organisasi yang dipimpinnya
  2. Organisator, artinya memiliki kemampuan mengelola potensi dan/atau sumber daya yang dimiliki organisasinya secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan yang direncanakan
  3. Motivator, artinya memiliki kemampuan memotivasi orang-orang di dalam organisasinya dalam rangka menjaga dan/atau meningkatkan momentum pergerakan/dinamika organisasi di dalam mencapai tujuan yang direncanakan

Di dalam pengertian yang lebih luas lagi, pada hakikatnya kepemimpinan itu adalah akhlak. Maknanya ialah seorang pemimpin itu adalah orang berakhlak yang mengemban amanah, sehingga dia harus pribadi yang:

  1. Sederhana dan bersahaja
  2. Bijak & mengayomi (tidak menguasai)
  3. Tangguh dan Optimistik
  4. Sabar dan Ikhlas
  5. Bertanggung-jawab

Berikut ini uraian tentang bagaimana implementasi kelima hal tersebut di atas di dalam diri seorang pemimpin.

Sederhana dan bersahaja

  • Menyusun strategi pencapaian visi dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh orang-orang di dalam organisasinya
  • Melakukan pekerjaannya dengan cara sederhana sehingga mudah diikuti atau diduplikasi oleh orang-orang di dalam organisasinya
  • Memberi contoh dan menjadi tauladan bagi orang-orang di dalam organisasinya

Bijak dan mengayomi

  • Mengelola sumber daya dan orang-orang di dalam organisasinya dengan bijak, efektif, dan efisien
  • Menggunakan wewenangnya bukan untuk menguasai namun untuk mengayomi dan membangun sinergisitas orang-orang di dalam organisasinya
  • Banyak mendengar dan menghargai pandangan/pendapat orang-orang di dalam organisasinya

Tangguh dan Optimistik

  • Tidak mudah menyerah dalam situasi apapun dan senantiasa memotivasi dan meyakinkan orang-orang di dalam organisasinya untuk tetap fokus pada tujuan
  • Selalu optimis, kreatif, inovatif, dan berfikiran positif
  • Fokus pada hasil (bukan pada kendala)

Sabar dan ikhlas

  • Bijaksana di dalam menerima kelebihan dan kekurangan orang lain
  • Senantiasa berbagi dan memberikan dukungan kepada orang-orang di dalam organisasinya di dalam pelaksanaan tugas bersama
  • Berempati terhadap persoalan-persoalan orang-orang di dalam organisasinya
  • Menjalankan tugas dengan semangat semata-mata mengharapkan ridha dari Allah SWT

Bertanggung jawab

  • Semua pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh organisasinya
  • Keberlanjutan (sustainability) organisasinya khususnya dalam jangka menengah dan jangka panjang
  • Regenerasi Kepemimpinan secara komprehensif

 

Seorang pemimpin yang baik pasti seorang manajer yang sukses, namun seorang manajer yang sukses belum tentu seorang pemimpin yang baik. Di sinilah perbedaan pokok antara pemimpin dan manajer.

Pemimpin itu selalu memperlakukan orang-orang di dalam kelompoknya sebagai pengikut yang harus dikuatkan, didengarkan, diperhatikan, dan disinergikan. Manajemennya lebih bersifat moralitas. Orientasinya ialah bagaimana kelompok ini dapat menduplikasikan hal-hal yang baik yang bermanfaat untuk meningkatkan dinamika organisasi yang dipimpinnya.

Manajer selalu fokus pada target pencapaian melalui sistematika yang telah ditetapkan. Manajemennya lebih bersifat otoritas, sehingga biasanya memperlakukan orang-orang di dalam kelompoknya sebagai anak-buah. Ini bukan sesuatu yang salah namun inilah yang membedakannya dengan pemimpin.

Bukan berarti Pemimpin tidak punya target. Bagi seorang pemimpin, pencapaian suatu tujuan adalah tugas dan tanggung-jawab bersama, sehingga sinergisitas dan keterlibatan orang-orang di dalam kelompoknya secara profesional dan proporsional jauh lebih penting daripada sekedar keberhasilan di dalam mencapai tujuan. Tugasnya lebih bersifat menjaga langkah dan arah pencapaian visi, melalui misi-misi yang telah disepakati bersama oleh orang-orang di dalam organisasinya.

SERBA SERBI KOLOM BETON

Kolom adalah unsur vertikal struktur yang berfungsi sebagai pemikul gaya-gaya dari balok dan/atau struktur di atasnya, dan meneruskannya ke struktur atau elemen struktur di bawahnya. Sebagai elemen penopang struktur, kolom harus memiliki kekakuan dan kekuatan yang cukup agar memenuhi syarat sebagai unsur vertikal struktur dengan fungsi tersebut di atas.

kolom-5Untukmeningkatkan kemampuan bangunan terhadap gaya lateral akibat gempa, pada bangunan tinggi (high rise building) acapkali unsur vertikal struktur menggunakan gabungan antara kolom dengan dinding geser (shear wall)

Salah satu contoh penggunaan kolom sebagai bagian dari struktur bangunan adalah kolom penyangga tandon/reservoir air bersih seperti terlihat di dalam Gambar di bawah ini:

Kolom Tandon AirMeskipun nampaknya hanya memikul tandon air, kolom jenis ini lebih berat kerjanya karena selain tidak ada pengaku lainnya (selain hanya balok-balok ikat), massa atau beban terpusat di bagian paling atas. Jika ada gempa, kerja kolom ini akan sangat berat. Untuk itu perlu dirancang dengan sebaik-baiknya.

Untuk lebih memahami konsep perancangan kolom beton, berikut disertakan bahan kuliah yang saya buat (dalam format pdf) yang bisa diunduh dengan klik di sini.

Kolom merupakan elemen struktur yang paling menentukan kekokohan bangunan. Pada daerah dengan kegempaan tinggi, peranan kolom sangat menentukan. Untuk itu diperlukan rancangan kolom yang komprehensif dan menjamin kekokohan yang cukup untuk gaya gempa yang terjadi di daerah yang bersangkutan. Dikembangkannya konsep kolom kuat balok lemah (strong column weak beam) sebagai jawaban atas ketahanan struktur terhadap gaya gempa merupakan hal yang perlu disambut dengan baik. Namun demikian, konsekuensinya adalah tuntutan pengetahuan yang semakin kompleks bagi engineer untuk mendalami betul konsep SRPMK (Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus).

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

KELANA dan LCLR 1978

Di era tahun 70-an, banyak sekali kompetisi yang diselenggarakan di Indonesia untuk menggali potensi anak bangsa di bidang seni musik. Salah satu kompetisi yang cukup bergengsi (bagi remaja tentunya) adalah Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang diselenggarakan oleh Prambors Rasisonia-salah satu stasiun radio yang sangat terkenal di kalangan remaja, khususnya di ibukota Jakarta.

Di awal penyelenggaraannya (tahun 1977), tercatat beberapa lagu hit karya anak-anak muda Indonesia (lebih tepatnya anak-anak Jakarta), seperti Lilin Kecil, Dalam Kelembutan Pagi, dan sebagainya.

LCLR_1978Tahun 1978, kompetisi ini diselenggarakan lagi, dan diperluas hingga tingkat basional. Sekelompok anak muda yang bergabung dalam Vocal Group Camatha (Ante, Edwina, Menil, Sita, Syuli, Wati, Aki, Oni, Parip, dan saya sendiri) berinisisatif untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dibuatlah rekaman beberapa lagu untuk dikirim (dalam bentuk kaset) ke kompetisi tersebut di studio Puskat (Pusat Kateketik) Yogyakarta dengan sound engineer Mas Andi (sudah almarhum). Salah satu lagu yang diiikutkan dalam kompetisi ini (dari 8 lagu yang dikirimkan) adalah KELANA, karya saya sendiri dengan nama Hotma Soehartono (Soehartono adalah nama almarhum ayah saya). Di luar dugaan, lagu tersebut masuk ke dalam 10 lagu terbaik (dalam urutan ke 4) bersama: Kidung, Khayal, Sesaat, dalam Cinta dan Cita, Apatis, Resah, dan lainnya (klik disini).

Bagi remaja saat itu, lagu-lagu LCLR sangat disukai karena selain lagu-lagunya sangat merepresentasikan dunia remaja, arransernya (Jockie Suryoprayoga) juga sangat piawai untuk mengemas lagu-lagu tersebut menjadi sajian yang enak untuk didengar. Jockie ini termasuk trend setter musik-musik remaja di era tahun 1970-1980.

Saya coba untuk mengenang kembali lagu Kelana ini sekaligus menghibur anda. Terimakasih secara khusus saya ucapkan untuk GO3ZSLY yang telah mengunggah lagu tersebut via youtube.

Camatha saat ini (18 Januari 2015) telah berusia 37 tahun dan masih sering berkumpul (meskipun tidak selalu lengkap). Jadi apa mereka sekarang? Inilah mereka:

Ante – Pemda DIY, Edwina – bermukim di Amerika, Menil – dokter gigi di Kudus, Sita – Dosen di Arsitektur UGM, Syuli – Dosen FEB UGM, Wati – Asian Dev.Bank di Manila, Aki – Direktur PT Titimatra Tujutama Yogyakarta, Oni – Cipta Karya PU Jawa Timur, Parip – Dosen FH UGM/Wakil Rektor UGM bidang Kerjasama dan Alumni (sebelumnya menjabat sebagai Dekan FH UGM), Hotma -Direktur Sekolah Vokasi UGM/Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi se Indonesia.

Hotma on Piano

  1. Separuh Aku (Noah – taken at my office by Wikan Sakarinto)
  2. Jauh di Mata dekat di Hati (RAN – courtesy of isigood.com)
  3. Butiran Debu (Rumor – taken by Muhammad Maulana Rasyid)
  4. Kelana (Hotma Soehartono – new arrangement by Hotma Soehartono – video Muhammad Maulana Rasyid)

 

SAP/ETABS bukan Structural Engineer

 

Ada sebuah asumsi di kalangan sebagian mahasiswa teknik sipil struktur yang kurang pas terhadap keberadaan software SAP/ETABS. Sebagian besar mereka beranggapan bahwa jika sudah menguasai SAP/ETABS mereka qualified sebagai structural engineer. Ini adalah persepsi yang sangat salah khususnya jika dilihat dari sudut pandang profesi teknik sipil.

Engineering atau perekayasaan adalah intuisi yang terasah melalui serangkaian pembelajaran keahlian. Di dalam pendidikan keahlian, terdapat 3 hal penting sumber pembelajaran, yaitu: Alam (nature), Pengetahuan (knowledge), dan Penyelesaian persoalan (problem solving)

Pembelajaran SkillKetiga sumber pembelajaran ini harus didisain sedemikian rupa untuk menghasilkan kompetensi keahlian yang memadai guna menyelesaikan persoalan-persoalan perekayasaan di tingkatan/level tertentu.

Kelemahan produk perekayasaan bidang struktur bangunan gedung saat ini adalah kurang informatifnya gambar rancangan (design drawing). Selain itu, kemampuan engineer di dalam detailing saat ini jauh berkurang dibandingkan dengan beberapa dasawarsa sebelumnya. Saat ini engineer lebih disibukkan dengan analisis yang sedemikian rumit namun tidak diikuti dengan kemampuannya mengimplementasikan hasil analisis rancangannya ke dalam gambar detil yang komprehensif. Di sisi lain, engineer yang bertugas untuk mengimplementasikan gambar rancangan ke dalam gambar lapangan (shop drawing) juga kurang memahami standar yang berlaku. Akibatnya sering terjadi konflik-konflik di lapangan yang tidak perlu, misalnya: volume/kuantitas pekerjaan, metoda konstruksi, dan kontrol kualitas (quality control). Akibatnya, ketika terjadi konflik di dalam pelaksanaan, penyelesaiannya seringkali kurang memuaskan. Jika detil dan regulasi terkait ini benar-benar difahami oleh masing-masing unsur (perancang, pengawas, dan pelaksana) maka dipastikan produk yang dihasilkan akan sesuai dengan harapan.

Penggunaan AutoCAD di dalam proses disain boleh jadi merupakan kemudahan yang harus dimanfaatkan secara optimal. Namun demikian, civil engineer tidak boleh melupakan bahwa kemampuan membuat sketsa detil secara manual adalah bagian dari keahlian civil engineering yang tidak boleh diabaikan.

Selain kesesuaian dengan rancangan arsitekturnya, keberhasilan suatu produk rancangan struktur bangunan gedung terletak pada gambar rancangan dan detil-detilnya. Semakin lengkap dan jelas, maka akan semakin kecil potensi konflik di dalam pelaksanaan/implementasi rancangan. Jadi, tidak ada alasan apapun bagi structural engineer untuk tidak memahami gambar-gambar hasil rancangannya sendiri (terutama detil-detilnya).

Saat ini penggunaan SAP/ETABS, AutoCAD, dan program-program bantu lainnya sudah semakin luas di dalam perancangan bangunan gedung. Banyak mahasiswa yang mulai menikmati kemudahan-kemudahan dari kehadiran program-bantu ini. Yang perlu difahami bahwa menguasai program-program bantu tadi di dalam praktik profesi bukan berarti yang bersangkutan memenuhi kualifikasi sebagai structural engineer.

Terkait dengan permasalahan gempa, perlu difahami bahwa gempa itu tidak membunuh manusia, yang membunuh justru bangunan yang roboh akibat gempa. Oleh sebab itu, kaidah-kaidah perancangan bangunan gedung di daerah rawan gempa (bangunan gedung tahan gempa) perlu benar-benar dipahami oleh structural engineer. Ketentuan rancangan menurut konsep SRPMK yang disyaratkan untuk struktur bangunan gedung di daerah rawan gempa harus benar-benar dikuasai. Hal ini berarti hasil kalkulasi penulangan menurut SAP/ETABS sudah tidak bisa lagi digunakan secara langsung, terutama pada perancangan kolom bangunan.

Merancang struktur bangunan adalah seni. Keterbatasan potensi pendukung bangunan (kondisi tanah, keterbatasan material, dan sebagainya) harus dimaknai sebagai tantangan yang harus diselesaikan dengan sikap yang profesional. Kepekaan intuisi dalam penyelesaian suatu rancangan struktur bangunan itulah sejatinya structural engineer.

DISAIN STRUKTUR BANGUNAN DALAM ARSITEKTUR

Jika bangunan karya arsitektur itu diibaratkan sebagai tubuh manusia, maka struktur adalah rangka manusia tersebut. Jadi disain struktur adalah merancang struktur agar mampu menopang berdiri dan berfungsinya bangunan.


Secara garis besar, tujuan disain struktur adalah untuk menghasilkan suatu struktur yang stabil, cukup kuat, mampu-layan dan tahan lama, serta memenuhi tujuan-tujuan lainnya seperti: ekonomis dan mudah dilaksanakan

Stabil, artinya bangunan tidak terguling, tidak miring, dan tidak tergeser selama umur bangunan yang direncanakan.

Cukup kuat dan mampu-layan, artinya kemungkinan terjadinya kegagalan struktur dan kehilangan kemampuan layan selama umur bangunan yang direncanakan kecil dan masih dalam batas-batas yang dapat diterima

Tahan lama, artinya struktur dapat menerima keausan dan kerusakan yang diperkirakan terjadi selama umur bangunan yang direncanakan tanpa pemeliharaan berlebih

Konsep struktur yang diterapkan pada suau disain arsitektur harus merupakan kompromi yang komprehensif antara Arsitek dengan Konstruktor (perancang struktur). Kompromi ini juga harus melibatkan bidang keahlian lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu mekanikal dan elektrikal.

Disain struktur mencakup beberapa disain elemen pokok struktur, seperti:
1. Pondasi Bangunan
2. Rangka Struktur (balok, kolom, pelat atap/lantai)
3. Atap dan Penutup Atap

Kegagalan fungsi dari elemen-elemen pokok tersebut dapat menyebabkan keruntuhan bangunan atau deformasi (perubahan bentuk) bangunan yang membahayakan penggunanya.

Disain arsitektur yang baik adalah disain yang menghasilkan proporsi nilai nominal struktur sekitar 35% sampai 50% dari nilai nominal bangunan secara keseluruhan. Jika nilai nominal struktur melebihi proporsi tersebut maka pada hakikatnya perlu dilakukan evaluasi terhadap disain secara keseluruhan (baik disain arsitektur maupun disain struktur).

Apalah arti disain arsitektur yang bagus tetapi tidak memiliki kekuatan struktural yang cukup. (Hotma, 2014)