KILAS SEJARAH BERDIRINYA FORUM PENDIDIKAN TINGGI VOKASI INDONESIA

Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI – semula bernama Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia) resmi berdiri pada tanggal 28 Oktober 2014, yaitu saat diselenggarakannya Kongres I di Sekolah Vokasi UGM, Sekip, Yogyakarta.

Forum ini diinisiasi oleh 5 Universitas penyelenggara pendidikan vokasi, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universtas Brawijaya, dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Berdirinya FPTVI ini diawali dari penyelenggaraan Lokakarya tentang “Penegasan Pendidikan Vokasi Sesuai UU No 12 Tahun 2012” tanggal 3 April 2014, di Sekolah Vokasi UGM, yang dihadiri oleh berbagai universitas negeri di Indonesia. Atas prakarsa Direktur Sekolah Vokasi UGM saat itu (Ir. Hotma Prawoto S, MT., IP-Md) perwakilan dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universtas Brawijaya, dan Universitas Negeri Yogyakarta diminta menghadiri pertemuan khusus di Ruang Sidang SV 138 untuk membicarakan inisisasi pendirian Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia.

Pertemuan ini menghasilkan 4 butir Nota Kesepakatan Bersama yaitu:

  1. Membentuk Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (Forkom PTVI)
  2. Melakukan koordinasi awal dengan semua Pendidikan Tinggi Vokasi yang dikoordinasi oleh Sekolah Vokasi UGM
  3. Tujuan pembentukan forum komunikasi ini antara lain:
    • Mensinergikan penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi vokasi di berbagai universitas/institut di Indonesia
    • Memperjuangkan nomenklatur institusi penyelenggara pendidikan tinggi vokasi di Universitas/Institut di Indonesia
    • Mengusulkan kepada BAN PT untuk melakukan penyesuaian borang akreditasi yang cocok dengan ciri dan pola pendidikan tinggi vokasi
    • Sharing penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi di berbagai universitas/institut di Indonesia khususnya dalam rangka turut memberikan solusi bagi penyelesaian masalah-masalah bangsa
  4. Menyelenggarakan pertemuan/musyawarah nasional pendirian Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (Forkom PTVI) selambat-lambatnya pada bulan September 2014 di UGM Yogyakarta.

Kesepakatan ini ditandatangani oleh:

  1. Hotma Prawoto, MT., IP-Md (Universitas Gadjah Mada)
  2. Antony Sihombing, MPD, Ph.D (Universitas Indonesia)
  3. Wawan Oktariza, M,Si (Institut Pertanian Bogor)
  4. Dwi Rahdiyanta, M.Pd (Universitas Negeri Yogyakarta)
  5. Efraim Luturmas, MM (Universitas Brawijaya)

Selanjutnya, sebelum pelaksanaan Kongres I ini dilakukan koordinasi yang disebut sebagai pertemuan pra kongres. Pra Kongres I ini diadakan di Program Vokasi Universitas Indonesia, dengan dihadiri semua perwakilan dari UGM, UI, IPB, UB, dan UNY,

Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2014, dengan dukungan dari semua pemrakarsa/inisiator ini, Sekolah Vokasi UGM berhasil menyelenggarakan Kongres I, dengan hasil-hasil sebagai berikut:

  1. Masa Bakti Pengurus Forkom PTVI adalah 1 tahun
  2. Intitusi penyelenggara Kongres otomatis menjadi Pemimpin Forkom PTVI (Ketua dan Sekjen)
  3. Wakil Ketua dipilih dari pimpinan institusi penyelenggara kongres berikutnya
  4. Dari kongres ke kongres berikutnya minimal diadakan 1 kali pertemuan dalam bentuk rapat kerja
  5. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dibahas dan disahkan dalam Rapat Kerja 2015 yang akan diselenggarakan di Lombok Utara
  6. Hasil kongres I ini disampaikan kepada Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi sebagai bentuk kemitraan antara Forkom PTVI dan Kementerian Ristek dan Dikti
  7. Susunan Pengurus Forkom PTVI 2014-2015:
    • Ketua             : Ir. Hotma Prawoto S, MT. IP-Md (UGM)
    • Wakil Ketua : Prof. Dr. Munir (UB)
    • Sekjen           : Ir. Wikan Sakarinto, MT. Ph.D (UGM)
    • Bendahara   : Ir. Antony Sihombing, MPD, Ph.D (UI)

mb_kongnasvok-3Foto Bersama para Peserta Kongres I di depan Gedung Perpustakaan SV UGM

Disadur dari Laporan Pertanggung Jawaban Ketua Forum PTVI pada Kongres II FPTVI di Universitas Brawijaya Malang, 28 Oktober 2015

BERSINERGI LEBIH BAIK DARIPADA BERKOMPETISI

Secara garis besar, terdapat 3 tantangan yang harus dihadapi oleh Bangsa Indonesia terkait dengan bidang Sumber Daya Manusia, yaitu:

  1. Integrasi Ekonomi Regional (MEA/ASEAN Economic Community) Tahun 2015
  2. Visi ASEAN 2020
  3. Orientasi Pendidikan Tinggi di Indonesia

Di dalam Integrasi Ekonomi Regional Tahun 2015, terdapat 4 karakter kunci yang akan dibangun oleh Masyarakat Ekonomi ASEAN Tahun 2015, yaitu:

  1. pasar dan basis produksi tunggal,
  2. wilayah ekonomi yang sangat kompetitif,
  3. wilayah pembangunan ekonomi yang merata, dan
  4. kawasan yang terintegrasi ke dalam ekonomi global.

Visi ASEAN 2020 juga mengisyaratkan 3 hal yang perlu difahami dan disadari bersama, yaitu:

  1. menciptakan Kawasan Ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi yang ditandai dengan
    • arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas,
    • arus lalu lintas modal yang lebih bebas,
    • pembangunan ekonomi yang merata, serta
    • mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi,
  2. mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan
  3. meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan.

Di sisi lain, orientasi pendidikan kita mengisyaratkan 3 hal penting yang benar-benar merupakan kondisi yang harus dibenahi secara sistematik, yaitu:

  1. Masih terlalu banyaknya lulusan perguruan tinggi jalur sains dibanding jalur keahlian
  2. Tuntutan masyarakat yang semakin meningkat akibat pesatnya perkembangan iptek
  3. Profesionalisme sebagai perwujudan keahlian berbasis kompetensi à sertfikasi keahlian

Terkait dengan kondisi-kondisi di atas, perlu pemaknaan lebih mendalam lagi tentang pentingnya sinergisitas antara penyelenggara Pendidikan Tinggi dengan Assosiasi Profesi/Keahlian. Sinergisitas ini harus dibangun dalam suatu kerangka kebersamaan di dalam mewujudkan kedaulatan bangsa di bidang sumber daya manusia. Mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan, yang merupakan karakter kunci yang akan dibangun di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN, harus dimaknai sebagai sebuah tantangan yang perlu dihadapi bersama secara strategis dan komprehensif.

Keahlian itu pada hakikatnya adalah perkalian dari informasi, pengalaman, dan sikap. Informasi adalah ilmu pengetahuan atau wawasan akademik (Hotma, 2010). Jika salah satu saja nol (tidak ada) maka sesungguhnya yang bersangkutan tidak memiliki keahlian. Jadi hakikatnya yang dimaksud dengan keahlian itu ialah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dengan sikap yang benar. Di sinilah pendidikan vokasional memiliki peluang untuk meramunya. Pendidikan vokasional itu dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penerapan ilmu untuk menyelesaikan problem secara praktis namun sistematik dan terukur.

Pendidikan Vokasi bukanlah merupakan penggalan pendidikan akademik namun merupakan pendidikan keahlian yang utuh, komprehensif dan terstruktur (Hotma, 2013). Komposisi pembelajaran pendidikan vokasional yang menitik beratkan pada kemampuan skill yang terwujud dalam proporsi, 40% teori dan 60% praktik, diyakini akan menjadi sebuah pendidikan keahlian yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mampu memenagkan persaingan global. Produk pendidikan vokasional akan menjadi lengkap, bilamana dalam aplikasinya menggunakan; penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge), pengalaman (tacit), dan sikap (attitude) dalam komposisi yang proporsional. Otak dan hati adalah dua unsur utama pembentuk keahlian dan ketrampilan motorik manusia perlu diasah dan dididik untuk menghasilkan softskill dan hardskill melalui pembelajaran dari alam (nature), pengetahuan (knowledge), dan persoalan (problems). Ini merupakan inti dari proses pembelajaran manusia menjadi ahli (Hotma, 2010). Jika ilmu pengetahuan yang aspek akademisnya sangat tinggi ini diimplementasikan melalui aplikasi yang terstruktur dan komprehensif, maka tidak membutuhkan waktu yang lama bangsa ini akan mendapatkan kedaulatannya yang saat ini hilang. Di sinilah posisi strategis pendidikan vokasional di dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia demi Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Posisi strategis ini tidak akan ada manfaatnya jika tidak diikuti dengan perlindungan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh Sumber Daya Manusia Indonesia. Oleh sebab itu sertifikasi keahlian menjadi sangat penting. Sertifikasi keahlian ini harus dimaknai sebagai perlindungan terhadap Sumber Daya Manusia Indonesia khususnya di dalam menghadapi persaingan global baik yang diisyaratkan di dalam integrasi ekonomi 2015 (MEA) maupun Visi ASEAN 2020. Tanpa sertifikasi ini maka pada hakikatnya SDM Indonesia tidak memiliki perlindungan dari arus pergerakan tenaga profesional secara bebas di kawasan.

Sehubungan dengan hal tersebut, peranan Asosiasi Profesi/Keahlian menjadi sangat penting. Namun demikian, yang lebih penting lagi adalah sinergisitas antara Asosiasi Profesi, Konsorsium Keilmuan, dan Penyelenggara Pendidikan Keahlian. Ketiga unsur ini harus menjadi kesatuan yang utuh di dalam menetapkan dan meningkatkan kompetensi bidang-bidang keahlian yang menjadi tanggung-jawabnya. Sinergisitas ketiga unsur tersebut secara otomatis akan memberikan perlindungan terhadap hak-hak SDM yang berada di dalam organisasinya. Namun demikian patut disayangkan Segelintir orang di negeri ini terlalu asyik memerangi dan memusuhi bangsanya sendiri. Karena keasyikannya ini mereka menjadi tidak menyadari bahwa musuh utamanya adalah bangsa lain. Jika ini tidak disadari, berkah demografi yang dimiliki oleh bangsa ini akan menjadi bencana demografi.

Asosiasi Profesi, Konsorsium Keilmuan, dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi, mutlak harus mulai gotong-royong membangun kemartabatan Sumber Daya Manusia Indonesia, paling tidak di negerinya sendiri. Bangsa ini harus mulai menyadari bahwa bersinergi itu lebih baik daripada berkompetisi. Kedaulatan bangsa ini tidak akan pernah terwujud tanpa suatu kesadaran bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, yang sangat sulit ditundukkan oleh bangsa lain di dunia ini jika kita bersatu.

Standarisasi yang saat ini didominasi oleh kepentingan-kepentingan bisnis negara-negara lain yang merasa dirinya kuat harus mulai dikaji lebih mendalam oleh ketiga unsur tadi. Masih banyak standar-standar baik produksi maupun kompetensi keahlian, yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Akibatnya ketergantungan kita terhadap bangsa lain menjadi semakin besar. Ini sangat ironis. Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia justru menjadi penonton di negerinya sendiri. Menjadi inferior di negerinya sendiri.

Inilah saatnya membangun negeri melalui sinergisitas yang komprehensif dan terstruktur, sehingga kedaulatan bangsa ini di segala bidang akan segera terwujud. Jika ada Asosiasi Profesi atau Konsorsium Keilmuan yang tidak mau bersinergi membangun negeri, maka sah-sah saja jika mereka ditinggalkan anggotanya, atau bahkan dibentuk assosiasi tandingan. Namun demikian ini preseden buruk bagi pengembangan keilmuan dan kompetensi keahlian. Di luar sana sinergisitas semacam ini sudah menjadi sebuah langkah politik suatu negara untuk masuk ke negara lain, sementara di Indonesia masih asyik dengan menjajah bangsa sendiri. Jika ini tidak segera diakhiri, maka saat bangsa lain “menguasai” negeri ini, kita hanya bisa gigit jari. Bangsa ini terlalu sering terlambat menyadari sesuatu karena asyik dengan “memusuhi” bangsa sendiri.

Pada tanggal 19 Mei 2015, Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (yang diprakarsai oleh Sekolah Vokasi UGM, Program Vokasi UI, Pendidikan Vokasi UB, Program Diploma IPB, dan Pendidikan Vokasi UNY), mendeklarasikan 3 butir kesepakatan tentang Sertifikasi Keahlian Sebagai Perlindungan SDM Indonesia dari Penetrasi Tenaga Kerja Asing di Era Masyarakat Ekonomi Asean (Deklarasi Depok 2015).

Deklarasi Depok 2015Ketua Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia dan Rektor UI didampingi oleh anggota Forum PTVI dalam Deklarasi Depok 2015

Berikut isi dari Deklarasi tersebut:

  1. Bahwa penyiapan Sumber Daya Manusia Indonesia yang memiliki daya-saing di Era Kesejagadan harus dimaknai sebagai upaya yang strategis dan komprehensif di dalam rangka mewujudkan kedaulatan bangsa di bidang ketenaga-kerjaan. Oleh sebab itu, perlu sinergisitas antara Pemerintah, penyelenggara pendidikan vokasional, assosiasi profesi, dan masyarakat industri, khususnya di dalam membangun dan mengembangkan pendidikan vokasi di Indonesia yang berbasis kompetensi dan sertifikasi, serta menerapkan sistem atau pendekatan pendidikan berbasis produk
  2. Bahwa Sertifikasi Keahlian harus selalu dimaknai sebagai salah satu bagian yang sangat penting dan strategis untuk menciptakan daya saing dan kemartabatan Sumber daya Manusia Indonesia di dunia. Oleh sebab itu, mutlak peran-serta dan dukungan Pemerintah di dalam program sertifikasi keahlian, khususnya yang diselenggarakan bersama antara penyelenggara pendidikan vokasional dan asosiasi keahlian/profesi
  3. Bahwa Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) harus selalu dimaknai sebagai penyelaras antara dunia pendidikan dengan dunia kerja di Indonesia. Oleh sebab itu perlu kesepahaman bersama antara penyelenggara pendidikan vokasional, dunia kerja, dan asosiai kehalian/profesi, di dalam penggunaan KKNI sebagai rujukan di dalam pemaknaan jenjang kompetensi keahlian

Saat ini, pendidikan vokasional bukan lagi pendidikan alternatif namun pendidikan yang paling strategis untuk meraih kedaulatan bangsa di bidang Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Produk. Menginferiorkan pendidikan ini hanya akan memperbesar ketergantungan bangsa ini terhadap bangsa lain.

Yogyakarta, 14 Agustus 2015

PEMBESIAN STRUKTUR BETON

PERANAN PENTING PEMBESIAN DI DALAM STRUKTUR BETON

 

Beton adalah salah satu material pembentuk struktur yang sangat luas penggunaannya di dunia struktur dan konstruksi. Beton sendiri adalah material yang disusun oleh pasta semen dan agregat (halus dan kasar) dengan perbandingan tertentu dan cara-cara pengolahan tertentu pula. Dari bahan-susunnya, maka beton tidak memiliki kekuatan atau kemempuan menahan gaya tarik.

Sebagai material yang tidak tidak memiliki kemampuan menahan gaya tarik, maka peranan bajatulangan di dalam struktur beton sangat penting. Kemampuan bajatulangan yang sangat kuat terhadap gaya tarik adalah sebuah alasan yang mendasari mengapa bajatulangan menjadi elemen penting di dalam struktur beton (Gambar 1)

BajatulanganGambar 1. Fungsi bajatulangan di dalam elemen struktur beton

Di dalam melakukan rancangan pembesian elemen struktur beton, mutlak difahami regulasi dan/atau ketentuan-ketentuan lain yang terkait dengan perancangan struktur, terutama bagi struktur bangunan yang dibangun di daerah rawan gempa. Di daerah rawan gempa, perancangan pembesian ini menjadi sangat penting. Secara garis besar terdapat dua cara pendetilan elemen struktur di daerah rawan gempa, yaitu:

  1. Detil yang memungkinkan pembentukan sendi plastis pada lokasi tertentu guna meningkatkan disipasi enersi gempa (ketahanan terhadap gempa melalui mekanisme disipasi enersi)
  2. Detil yang mendasarkan pada konsep penyerapan enersi gempa dengan pemasangan devices (damper atau base isolator)

Meskipun saat ini sudah mulai banyak digunakan, perancangan detil yang mendasarkan pada konsep penyerapan enersi gempa relatif mahal dan melibatkan teknologi tinggi. Oleh sebab itu implementasinya tidak terlalu populer dibandingkan dengan detil yang mendasarkan pada konsep disipasi enersi gempa.

Perancangan detil berdasarkan mekanisme disipasi enersi gempa banyak dipilih sebagai disain alternatif yang relatif lebih murah dan lebih mudah dilaksanakan. Namun demikian, pembesian harus dirancang sedemikian rupa hingga bagian-bagian tertentu dari struktur beton ini mampu memencarkan energi gempa melalui mekanisme sendi plastis. Jadi harus dibuat detil pembesian yang memungkinkan pembentukan sendi plastis pada lokasi tertentu guna meningkatkan disipasi enersi gempa (ketahanan terhadap gempa melalui mekanisme disipasi enersi). Selain itu, perlu beberapa persyaratan kualitas pendetilan struktur (agar mekanisme sendi plastis benar-benar terjadi sesuai yang direncanakan), yaitu:

  1. Kuat tekan target beton (f’c) minimal 25 Mpa, dan homogenitasnya harus terjamin (khususnya pada join balok-kolom)
  2. Overstrength factor bajatulangan utama semua elemen struktur tidak boleh kurang dari 1.4
  3. Pendetilan sengkang (kualitas bahan dan bentuk sengkang) harus menjamin tidak terjadi gagal geser

 

Dari pengalaman mengajar struktur beton sejak tahun 1978 hingga saat ini, saya mencoba merangkai kembali naskah-naskah perkuliahan yang pernah saya buat, disesuaikan dengan regulasi yang berlaku. Untuk mendapatkan bahan tersebut (dalam format pdf). Naskah ini dibagi menjadi beberapa bagian (silakan klik pada topik yang dikehendaki), yaitu:

  1. Bajatulangan sebagai bahan bangunan
  2. Teknik Pembesian Pelat Beton
  3. Teknik Pembesian Balok Beton
  4. Teknik Pembesian Kolom Beton dan Join Balok-Kolom
  5. Teknik Pembesian Pelat Fondasi
  6. Dokumen Tugas dan Suplemen Khusus

Naskah-naskah di atas dipublikasikan melalui situs ini dengan tujuan membantu praktisi di dalam memahami dan merancang penulangan elemen struktur beton sesuai dengan regulasi yang berlaku. Mudah-mudahan bermanfaat

 

Tulisan ini saya dedikasikan kepada Ir. Harsojo D (Alm). Beliau adalah Guru yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Beliaulah yang membuat saya menyukai dan mencintai bidang teknik sipil. Melalui Beliau juga saya banyak mendapatkan bekal filosofi keteknik-sipilan, khususnya saat saya masih menjadi mahasiswa teknik sipil FT UGM. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi pahala bagi Beliau. Aamiin

HAKIKAT KESUKSESAN HIDUP

Di dalam hidup ini seringkali manusia terlalu memikirkan kebahagiaan dunia. Terkadang mereka mengejar rejeki dan harta sampai lupa bahwa sesungguhnya rejeki dan harta itu hanya sebagian kecil dari kemewahan dunia yang mungkin tidak memberi manfaat apa-apa terhadap kehidupan di akhirat. Rejeki dan harta yang dibelanjakan di jalan Allah sajalah yang akan bermanfaat bagi kehidupan di akhirat kelak.

Mengejar rejeki adalah sebuah kesalahan, apalagi jika sampai melupakan hakikat hidup ini sebagai karunia Tuhan. Sesungguhnya yang perlu dipersiapkan oleh setiap manusia ialah menata dirinya agar layak diberi rejeki oleh Allah SWT. Jadi jangan sampai membiarkan diri kita mengejar rejeki, namun menata diri kita sehingga Allah menyayangi kita dan akhirnya rejeki yang mengejar kita.

Membandingkan apa yang telah kita miliki dengan yang dimiliki oleh orang lain adalah sebuah kebodohan. Mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita itulah yang yang terpenting, karena hanya dengan cara itulah maka kita dapat menikmati karunia Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Perlu juga dijadikan renungan bahwa orang kaya yang sesungguhnya itu bukanlah orang yang berhasil mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya melainkan mereka yang paling sedikit menggunakannya, sehingga masih sanggup memberi dan berbagi dengan sesama. Itulah kekayaan yang sebenar-benarnya, yang bermanfaat bagi kehidupan akhirat kita.

Dunia ini hanya sementara saja. Jangan sampai kita terlalu dibebani oleh urusan dunia seperti: kaya, sukses, terkenal, dan sebagainya. Itu semua tidaklah penting karena sesungguhnya dunia ini adalah tempat kita berbuat baik. Berbuat baik, sabar, ikhlas, bersyukur, dan berserah diri, adalah ciri-ciri orang yang mencintai Allah SWT,

Jika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan mengujinya, Jika ia sabar maka Allah akan memilihnya. Jika ia ridho maka Allah akan mensucikannya.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

(Bahan renungan dan inspirator: H.Don – Medan)