HAKI dan PERFORMANCE BASED DESIGN

Di tengah persaingan global dimana terdapat kemungkinan banyaknya professional manca negara yang merambah lapangan kerja domestik, peranan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) sebagai salah satu assosiasi ahli konstruksi di Indonesia sangat strategis. HAKI dapat lebih berperan aktif di dalam pembinaan profesi yang berkelanjutan bagi anggotanya melalui pendidikan atau kursus-kursus, yang didisain untuk menjawab tantangan masyarakat akan karya profesi yang lebih bertanggung-jawab.

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan profesionalisme seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, mengharuskan para pelaku di bidang industri jasa konstruksi lebih memahami pentingnya kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui persaingan yang sehat. Di sinilah peran HAKI sebagai mitra assosiasi lain seperti Gapensi dan Inkindo dituntut untuk dapat lebih menjembatani dan memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang timbul.

Standarisasi pekerjaan rekayasa di bidang industri jasa konstruksi harus disambut dengan baik oleh para pelaku industri rekayasa konstruksi karena hal ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari kegagalan-kegagalan praktek perekayasaan yang umumnya terjadi akibat kurangnya pemahaman para pelaku terhadap aspek-aspek teknis yang seharusnya mereka kuasai.

Sertifikasi keahlian harus dipandang sebagai bentuk pengakuan assosiasi profesi akan keahlian yang diemban pemegangnya. Dengan demikian diharapkan semakin banyak perekayasa konstruksi yang lebih beretika dan lebih bertanggung-jawab di dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Gempa sebagai salah satu bencana yang paling banyak memakan korban jiwa manusia perlu mendapat perhatian khusus dari para perekayasa konstruksi. Pengalaman akan kejadian gempa yang pernah melanda bumi ini telah melahirkan konsep bangunan yang dirancang khusus untuk memiliki kemampuan dalam menahan gempa (bangunan tahan-gempa). Di dalam menghadapi persoalan gempa ini, telah terjadi banyak kemajuan yang dicapai di dalam penyusunan standar dan/atau ketentuan yang terkait dengan bangunan di daerah rawan gempa. Dengan diberlakukan konsep Performance Based Design (PBD) yaitu konsep yang mendasarkan perencanaan struktur berdasarkan performance yang dikehendaki saat terjadi gempa (terutama gempa dengan kekuatan besar), diharapkan bangunan lebih memiliki ketahanan yang cukup kuat khususnya dalam rangka upaya perlindungan terhadap jiwa manusia.

Namun demikian perlu disadari bahwa konsep PBD ini menuntut pengetahuan lanjut bagi para perekayasa konstruksi, mengingat banyaknya aspek yang harus diperhatikan dan diperhitungkan di dalam merencanakan struktur dan perkuatannya. Untuk itulah diperlukan pemahanan lebih dalam terhadap standar yang terkait dengan perencanaan tahan gempa untuk bangunan gedung.

HAKI sebagai assosiasi berhimpunnya para perekayasa konstruksi perlu melakukan penyebar-luasan informasi tentang standar perencanaan bangunan tahan gempa ini secara berkelanjutan. Untuk itu kegiatan kursus-kursus singkat dan periodik yang selama ini dilakukan diharapkan dapat membantu pemerintah di dalam meningkatkan pemahaman para pelaku di bidang industri jasa konstruksi tentang struktur bangunan di daerah rawan gempa.

Mengenai bangunan di daerah rawan gempa (bangunan tahan gempa) lebih lanjut saya berbagi di isigood.com (silakan klik disini)

(Hotma Prawoto)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *