PENDIDIKAN VOKASIONAL DALAM PERSPEKTIF KEDAULATAN BANGSA

Berbicara tentang pendidikan dan khususnya pendidikan vokasional, hakikatnya tidak bisa lepas dari perjuangan bangsa baik pada masa kemerdekaan, masa orde lama dan masa orde baru. Bangsa Indonesia mengalami masa suram pada masa penjajahan, dimana pembodohan dan pemiskinan dilakukan penjajah sebagai upaya melanggengkan kolonialisme dengan motivasi ekonomi. Pembodohan secara masal dilakukan dengan menutup aksesibilitas (dibaca: pendidikan dan informasi) masyarakat Indonesia terhadap perkembangan dunia luar. Para founding fathers bangsa ini melakukan berbagai upaya untuk dapat menggapai aksesbilitas dan meyakini bahwa hal tersebut adalah sebagai modal untuk mendapatkan kedaulatan dan martabat bangsa yang merdeka.

Ketika bangsa ini memperoleh kemerdekaan, para founding fathers menyusun format tata-kelola bangsa dengan visi mewujudkan kesejahteraan bangsa dengan memanfaatkan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; kemakmuran yang berkeadilan; dan kemakmuran yang menyejahterakan.

Masih segar dalam ingatan, Ir. Soekarno sebagai pemimpin bangsa tidak mudah ditaklukan oleh kepentingan asing. Bangsa Indonesia, dengan sumber daya alamnya mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi bangsa lain sebagai sumber kesejahteraan. Pada masa orde baru penjajahan kembali dalam bentuk penjajahan pola pikir dan orientasi. Sumber daya alam benar-benar sudah bukan lagi menjadi milik bangsa ini, namun menjadi milik bangsa lain yang menguasai teknologi. Kekayaan alam Indonesia secara perlahan tetapi pasti dieksploitasi oleh bangsa lain untuk kepetingannya, sedangkan bangsa ini tetap miskin dan tidak lagi memiliki kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Sejak orde baru, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tidak lagi berbasis kedaulatan. Di tengah perkembangan teknologi saat itu, pendidikan diarahkan pada kemampuan manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan secara akademik dengan maksud agar pengetahuan tersebut menjadi kekuatan bangsa untuk membangun negeri. Pemerintah Indonesia mengirimkan putra-putri terbaik untuk untuk belajar di luar negeri. Namun faktanya, aplikasi ilmu pengetahuan yang tidak disesuaikan dengan peradaban, kebudayaan dan kearifan lokal belum mampu menjadikan bangsa ini berdaulat. Globalisasi dunia yang tidak di ikuti dengan kesiapan pola pikir, memberikan dampak bahwa ketergantungan bangsa terhadap bangsa lain semakin besar dan rakyat semakin dinina-bobokan oleh kemewahan, hedonisme dan sebagainya. Sementara itu, bangsa lain yang menguasai teknologi memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeruk semua kekayaan Indonesia untuk kesejahteraan bangsanya. Penerapan ISO yang berlatar-belakang standarisasi global dimanfaatkan oleh sekelompok bangsa lain untuk semakin membuat bangsa ini terpuruk dan menggantungkan nasibnya terhadap bangsa lain..

Selain itu, anak bangsa ini terlalu bangga oleh sesuatu yang terjadi di negeri orang sehingga sering melupakan bahwa mereka harus bangga dengan negeri dan dirinya sendiri. Anak bangsa ini juga terlalu bangga dengan gelar dan pendidikan akademik. Gelar akademik masih menjadi impian sebagian besar orang sehingga mereka lupa bahwa aplikasi ilmu itu jauh lebih penting daripada penguasaan ilmu itu sendiri. Mereka juga tidak menyadari bahwa ada sebagian dari ilmu yang mereka peroleh justru lebih bermanfaat bagi bangsa lain untuk semakin menerpurukkan negeri ini.

Di sisi lain, kebiasan bangsa ini untuk membenarkan hal-hal yang dilihat (bukan membiasakan untuk melihat hal-hal yang benar) menjadikan keilmuan di bidang terapan kurang berkembang. Bagi mereka ini apa yang ada saat ini sudah cukup dan tidak perlu lagi dikembangkan. Mereka tidak melihat betapa hebatnya seandainya ilmu pengetahuan yang sangat akademis itu di implementasikan menjadi sesuatu yang aplikatif.

Keahlian itu pada hakikatnya adalah perkalian dari informasi, pengalaman, dan sikap. Informasi adalah ilmu pengetahuan atau wawasan akademik (Hotma, 2010). Jika salah satu saja nol (tidak ada) maka sesungguhnya yang bersangkutan tidak memiliki keahlian. Jadi hakikatnya yang dimaksud dengan keahlian itu ialah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dengan sikap yang benar. Di sinilah pendidikan vokasional memiliki peluang untuk meramunya.

Pendidikan vokasional itu dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penerapan ilmu untuk menyelesaikan problem secara praktis namun sistematik dan terukur. Pendidikan Vokasi bukanlah merupakan penggalan pendidikan akademik namun merupakan pendidikan keahlian yang utuh, komprehensif dan terstruktur (Hotma, 2013). Komposisi pembelajaran pendidikan vokasional yang menitik beratkan pada kemampuan skill yang terwujud dalam proporsi, 40% teori dan 60% praktik, diyakini akan menjadi sebuah pendidikan keahlian yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mampu memenagkan persaingan global. Produk pendidikan vokasional akan menjadi lengkap, bilamana dalam aplikasinya menggunakan; penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge), pengalaman (tacit), dan sikap (attitude) dalam komposisi yang proporsional. Otak dan hati adalah dua unsur utama pembentuk keahlian dan ketrampilan motorik manusia perlu diasah dan dididik untuk menghasilkan softskill dan hardskill melalui pembelajaran dari alam (nature), pengetahuan (knowledge), dan persoalan (problems). Ini merupakan inti dari proses pembelajaran manusia menjadi ahli (Hotma, 2010). Jika ilmu pengetahuan yang aspek akademisnya sangat tinggi ini diimplementasikan melalui aplikasi yang terstruktur dan komprehensif, maka tidak membutuhkan waktu yang lama bangsa ini akan mendapatkan kedaulatannya yang saat ini hilang. Di sinilah posisi strategis pendidikan vokasional di dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia demi Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Beberapa critical facors yang memberikan dampak terhadap proses pendidikan vokasional adalah sistem pembelajaran di tingkat pendidikan dasar dan menengah, dimana muatan pembelajaran pada aspek kognitif dan aspek karakter tidak linier dengan kematangan psikis dan fisik peserta didik. Hal ini akan mempengaruhi psychological and physic fatique pada saat menjalani pendidikan vokasional. Di usia produktifnya mereka cenderung menjadi generasi yang “letih” dan sebagian besar memiliki orientasi yang salah terhadap keberadaan dan tanggung jawabnya sebagai anak bangsa. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya keteladanan pemimpin bangsa dan peran media yang kurang memberikan informasi yang bersifat edukatif. Beberapa hal penting dalam penguasaan kemampuan atara lain;

  1. Pendidikan karakter merupakan aspek penting pendidikan vokasional, dimana hal ini berpengaruh terhadap sikap (attitude) yang berperan penting dalam pengembangan minat dan bakat dalam rangka penguasaan keahlian.
  2. Kemampuan berkomunikasi dan wawasan kewirausahaan merupakan aspek penting khususnya jika dikaitkan dengan kemampuan peserta didik vokasional menjadi pemenang di pasar global. Masih terbukanya bidang kewirausahaan adalah peluang yang penting untuk diperjuangkan. Jika peluang ini dapat dikuasai oleh peserta didik vokasional, maka pasar global berada dalam genggamannya (work ready, world ready and life ready).

Pendidikan vokasional di Indonesia perlu bekerja sama, bersinergi, dan membangun kesepahaman untuk membangun kedaulatan bangsa. Secara legal formal, keberadaan pendidikan vokasional yang dijamin oleh Undang-undang harus dimaknai secara positif bahwa negara membutuhkan peran serta pendidikan vokasional baik masa kini dan masa mendatang untuk membangun Indonesia. Penerapan ilmu pengetahuan sudah lama di nanti oleh bangsa dan negara beserta sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dalam berbangsa dan bernegara.

Bangsa ini bukan tidak mampu membangun kedaulatannya tetapi terlanjur tidak memiliki ketangguhan untuk membangun kedaulatan. Sebagai bangsa yang besar, seharusnya Indonesia memiliki kekuatan yang besar juga. Faktanya, justru segelintir orang di negeri ini yang berkuasa atas orang lain dengan tujuan kepentingan pribadi dan/atau golongan. Semangat untuk berkuasa di atas orang lain membawa negeri ini semakin terpuruk dan tidak memiliki gagasan cemerlang untuk berubah menjadi bangsa yang mandiri. (Hotma Prawoto, Oktober 2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *