INSPIRASI TENTANG KESUKSESAN

Sebagai makhluk Tuhan, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Sejak lahir hingga mati, manusia berproses. Adakalanya proses ini menjadikan manusia menjadi lebih baik namun adakalanya sebaliknya.

Kelahiran dan kematian itu sifatnya pasti, sedangkan kesuksesan hidup belum tentu. Jika kelahiran dan kematian itu tidak dapat direncanakan waktunya, sukses dapat direncanakan.

Hidup itu adalah memilih. Meskipun sifatnya relatif, hanya ada 2 pilihan dalam hidup yaitu sukses (berhasil) atau gagal. Sukses merupakan pilihan yang berat karena butuh upaya yang kuat untuk mencapainya dan perlu strategi yang cerdas dan matang. Gagal adalah pilihan yang paling mudah karena tidak butuh upaya apapun dan mudah pencapaiannya.

Meskipun berat, sukses sangat berharga untuk diperjuangkan karena akan membawa kita untuk selalu mensyukuri nikmat Allah SWT. Sebaliknya, kegagalan pasti melahirkan manusia yang kufur nikmat (selalu mengeluh, tidak bahagia, iri, dengki dan sebagainya). Itulah sebabnya mengapa orang sukses umumnya bertambah kesuksesannya, sedangkan orang gagal semakin lama semakin terpuruk kehidupannya. Yang perlu dilakukan oleh orang yang gagal untuk sukses sebenarnya adalah merubah cara fikirnya yang kufur nikmat menjadi pribadi yang senantiasa sabar, ikhlas, dan bersyukur.

Orang yang berhasil dan sukses dalam hidupnya adalah mereka yang punya impian dan tekad untuk mewujudkan impian tersebut. Mereka yang demikian ini adalah mereka yang selalu bahagia, senantiasa sabar ikhlas dan bersyukur dalam hidupnya, dan sederhana cara berfikirnya. Oleh sebab itu, mereka selalu gembira, optimistik, mampu mengelola stress dalam hidupnya. Selain itu, mereka adalah juga pribadi yang dirinya sendiri dan selalu belajar dari orang lain untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Intinya, mereka ini adalah orang yang bahagia dan senantiasa sabar, ikhlas dan bersyukur dalam hidupnya. Karena sikapnya ini, mereka terbentuk untuk menjadi pribadi yang tidak kaku (fleksibel dan mudah menyesuaikan diri). Di dalam diri mereka pasti telah tertanam sikap berikut:

  1. Menghargai perbedaan sebagai sebuah rahmat Allah SWT
  2. Ikhlas menerima kekurangan orang lain sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan karuniaNYA
  3. Terbuka terhadap ide, kritik, dan saran dengan senantiasa berfikir positif dan solutif
  4. Rendah hati dan tidak menyombongkan diri
  5. Adaptif terhadap setiap situasi yang terjadi dengan pemahaman bahwa itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk menjadikan dirinya lebih baik dan lebih bermanfaat bagi lingkungannya

Merancang kesuksesan adalah upaya paling penting untuk menghindari kegagalan. Namun harus disadari bahwa di dalam rangka mencapai kesuksesan yang direncanakan pasti akan ada hambatan dalam bentuk kegagalan atau kejatuhan. Jika hambatan atau kejatuhan ini dimaknai sebagai bagian dari proses kesuksesan maka sukses pasti diraih. Orang yang sukses adalah mereka yang bangkit satu kali lebih banyak dari jumlah kejatuhan atau kegagalannya.

 

PENDIDIKAN VOKASIONAL DALAM PERSPEKTIF KEDAULATAN BANGSA

Berbicara tentang pendidikan dan khususnya pendidikan vokasional, hakikatnya tidak bisa lepas dari perjuangan bangsa baik pada masa kemerdekaan, masa orde lama dan masa orde baru. Bangsa Indonesia mengalami masa suram pada masa penjajahan, dimana pembodohan dan pemiskinan dilakukan penjajah sebagai upaya melanggengkan kolonialisme dengan motivasi ekonomi. Pembodohan secara masal dilakukan dengan menutup aksesibilitas (dibaca: pendidikan dan informasi) masyarakat Indonesia terhadap perkembangan dunia luar. Para founding fathers bangsa ini melakukan berbagai upaya untuk dapat menggapai aksesbilitas dan meyakini bahwa hal tersebut adalah sebagai modal untuk mendapatkan kedaulatan dan martabat bangsa yang merdeka.

Ketika bangsa ini memperoleh kemerdekaan, para founding fathers menyusun format tata-kelola bangsa dengan visi mewujudkan kesejahteraan bangsa dengan memanfaatkan kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; kemakmuran yang berkeadilan; dan kemakmuran yang menyejahterakan.

Masih segar dalam ingatan, Ir. Soekarno sebagai pemimpin bangsa tidak mudah ditaklukan oleh kepentingan asing. Bangsa Indonesia, dengan sumber daya alamnya mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi bangsa lain sebagai sumber kesejahteraan. Pada masa orde baru penjajahan kembali dalam bentuk penjajahan pola pikir dan orientasi. Sumber daya alam benar-benar sudah bukan lagi menjadi milik bangsa ini, namun menjadi milik bangsa lain yang menguasai teknologi. Kekayaan alam Indonesia secara perlahan tetapi pasti dieksploitasi oleh bangsa lain untuk kepetingannya, sedangkan bangsa ini tetap miskin dan tidak lagi memiliki kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

Sejak orde baru, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa tidak lagi berbasis kedaulatan. Di tengah perkembangan teknologi saat itu, pendidikan diarahkan pada kemampuan manusia untuk mendalami ilmu pengetahuan secara akademik dengan maksud agar pengetahuan tersebut menjadi kekuatan bangsa untuk membangun negeri. Pemerintah Indonesia mengirimkan putra-putri terbaik untuk untuk belajar di luar negeri. Namun faktanya, aplikasi ilmu pengetahuan yang tidak disesuaikan dengan peradaban, kebudayaan dan kearifan lokal belum mampu menjadikan bangsa ini berdaulat. Globalisasi dunia yang tidak di ikuti dengan kesiapan pola pikir, memberikan dampak bahwa ketergantungan bangsa terhadap bangsa lain semakin besar dan rakyat semakin dinina-bobokan oleh kemewahan, hedonisme dan sebagainya. Sementara itu, bangsa lain yang menguasai teknologi memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeruk semua kekayaan Indonesia untuk kesejahteraan bangsanya. Penerapan ISO yang berlatar-belakang standarisasi global dimanfaatkan oleh sekelompok bangsa lain untuk semakin membuat bangsa ini terpuruk dan menggantungkan nasibnya terhadap bangsa lain..

Selain itu, anak bangsa ini terlalu bangga oleh sesuatu yang terjadi di negeri orang sehingga sering melupakan bahwa mereka harus bangga dengan negeri dan dirinya sendiri. Anak bangsa ini juga terlalu bangga dengan gelar dan pendidikan akademik. Gelar akademik masih menjadi impian sebagian besar orang sehingga mereka lupa bahwa aplikasi ilmu itu jauh lebih penting daripada penguasaan ilmu itu sendiri. Mereka juga tidak menyadari bahwa ada sebagian dari ilmu yang mereka peroleh justru lebih bermanfaat bagi bangsa lain untuk semakin menerpurukkan negeri ini.

Di sisi lain, kebiasan bangsa ini untuk membenarkan hal-hal yang dilihat (bukan membiasakan untuk melihat hal-hal yang benar) menjadikan keilmuan di bidang terapan kurang berkembang. Bagi mereka ini apa yang ada saat ini sudah cukup dan tidak perlu lagi dikembangkan. Mereka tidak melihat betapa hebatnya seandainya ilmu pengetahuan yang sangat akademis itu di implementasikan menjadi sesuatu yang aplikatif.

Keahlian itu pada hakikatnya adalah perkalian dari informasi, pengalaman, dan sikap. Informasi adalah ilmu pengetahuan atau wawasan akademik (Hotma, 2010). Jika salah satu saja nol (tidak ada) maka sesungguhnya yang bersangkutan tidak memiliki keahlian. Jadi hakikatnya yang dimaksud dengan keahlian itu ialah mengaplikasikan ilmu pengetahuan dengan sikap yang benar. Di sinilah pendidikan vokasional memiliki peluang untuk meramunya.

Pendidikan vokasional itu dapat didefinisikan sebagai pendidikan yang berorientasi pada penerapan ilmu untuk menyelesaikan problem secara praktis namun sistematik dan terukur. Pendidikan Vokasi bukanlah merupakan penggalan pendidikan akademik namun merupakan pendidikan keahlian yang utuh, komprehensif dan terstruktur (Hotma, 2013). Komposisi pembelajaran pendidikan vokasional yang menitik beratkan pada kemampuan skill yang terwujud dalam proporsi, 40% teori dan 60% praktik, diyakini akan menjadi sebuah pendidikan keahlian yang mampu mencetak sumber daya manusia yang mampu memenagkan persaingan global. Produk pendidikan vokasional akan menjadi lengkap, bilamana dalam aplikasinya menggunakan; penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge), pengalaman (tacit), dan sikap (attitude) dalam komposisi yang proporsional. Otak dan hati adalah dua unsur utama pembentuk keahlian dan ketrampilan motorik manusia perlu diasah dan dididik untuk menghasilkan softskill dan hardskill melalui pembelajaran dari alam (nature), pengetahuan (knowledge), dan persoalan (problems). Ini merupakan inti dari proses pembelajaran manusia menjadi ahli (Hotma, 2010). Jika ilmu pengetahuan yang aspek akademisnya sangat tinggi ini diimplementasikan melalui aplikasi yang terstruktur dan komprehensif, maka tidak membutuhkan waktu yang lama bangsa ini akan mendapatkan kedaulatannya yang saat ini hilang. Di sinilah posisi strategis pendidikan vokasional di dalam mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia demi Indonesia yang berdaulat dan bermartabat.

Beberapa critical facors yang memberikan dampak terhadap proses pendidikan vokasional adalah sistem pembelajaran di tingkat pendidikan dasar dan menengah, dimana muatan pembelajaran pada aspek kognitif dan aspek karakter tidak linier dengan kematangan psikis dan fisik peserta didik. Hal ini akan mempengaruhi psychological and physic fatique pada saat menjalani pendidikan vokasional. Di usia produktifnya mereka cenderung menjadi generasi yang “letih” dan sebagian besar memiliki orientasi yang salah terhadap keberadaan dan tanggung jawabnya sebagai anak bangsa. Kondisi ini diperburuk oleh minimnya keteladanan pemimpin bangsa dan peran media yang kurang memberikan informasi yang bersifat edukatif. Beberapa hal penting dalam penguasaan kemampuan atara lain;

  1. Pendidikan karakter merupakan aspek penting pendidikan vokasional, dimana hal ini berpengaruh terhadap sikap (attitude) yang berperan penting dalam pengembangan minat dan bakat dalam rangka penguasaan keahlian.
  2. Kemampuan berkomunikasi dan wawasan kewirausahaan merupakan aspek penting khususnya jika dikaitkan dengan kemampuan peserta didik vokasional menjadi pemenang di pasar global. Masih terbukanya bidang kewirausahaan adalah peluang yang penting untuk diperjuangkan. Jika peluang ini dapat dikuasai oleh peserta didik vokasional, maka pasar global berada dalam genggamannya (work ready, world ready and life ready).

Pendidikan vokasional di Indonesia perlu bekerja sama, bersinergi, dan membangun kesepahaman untuk membangun kedaulatan bangsa. Secara legal formal, keberadaan pendidikan vokasional yang dijamin oleh Undang-undang harus dimaknai secara positif bahwa negara membutuhkan peran serta pendidikan vokasional baik masa kini dan masa mendatang untuk membangun Indonesia. Penerapan ilmu pengetahuan sudah lama di nanti oleh bangsa dan negara beserta sebagai alat untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dalam berbangsa dan bernegara.

Bangsa ini bukan tidak mampu membangun kedaulatannya tetapi terlanjur tidak memiliki ketangguhan untuk membangun kedaulatan. Sebagai bangsa yang besar, seharusnya Indonesia memiliki kekuatan yang besar juga. Faktanya, justru segelintir orang di negeri ini yang berkuasa atas orang lain dengan tujuan kepentingan pribadi dan/atau golongan. Semangat untuk berkuasa di atas orang lain membawa negeri ini semakin terpuruk dan tidak memiliki gagasan cemerlang untuk berubah menjadi bangsa yang mandiri. (Hotma Prawoto, Oktober 2014)

HAKI dan PERFORMANCE BASED DESIGN

Di tengah persaingan global dimana terdapat kemungkinan banyaknya professional manca negara yang merambah lapangan kerja domestik, peranan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) sebagai salah satu assosiasi ahli konstruksi di Indonesia sangat strategis. HAKI dapat lebih berperan aktif di dalam pembinaan profesi yang berkelanjutan bagi anggotanya melalui pendidikan atau kursus-kursus, yang didisain untuk menjawab tantangan masyarakat akan karya profesi yang lebih bertanggung-jawab.

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan profesionalisme seiring dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, mengharuskan para pelaku di bidang industri jasa konstruksi lebih memahami pentingnya kualitas pelayanan kepada masyarakat melalui persaingan yang sehat. Di sinilah peran HAKI sebagai mitra assosiasi lain seperti Gapensi dan Inkindo dituntut untuk dapat lebih menjembatani dan memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang timbul.

Standarisasi pekerjaan rekayasa di bidang industri jasa konstruksi harus disambut dengan baik oleh para pelaku industri rekayasa konstruksi karena hal ini merupakan upaya pemerintah untuk melindungi masyarakat dari kegagalan-kegagalan praktek perekayasaan yang umumnya terjadi akibat kurangnya pemahaman para pelaku terhadap aspek-aspek teknis yang seharusnya mereka kuasai.

Sertifikasi keahlian harus dipandang sebagai bentuk pengakuan assosiasi profesi akan keahlian yang diemban pemegangnya. Dengan demikian diharapkan semakin banyak perekayasa konstruksi yang lebih beretika dan lebih bertanggung-jawab di dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Gempa sebagai salah satu bencana yang paling banyak memakan korban jiwa manusia perlu mendapat perhatian khusus dari para perekayasa konstruksi. Pengalaman akan kejadian gempa yang pernah melanda bumi ini telah melahirkan konsep bangunan yang dirancang khusus untuk memiliki kemampuan dalam menahan gempa (bangunan tahan-gempa). Di dalam menghadapi persoalan gempa ini, telah terjadi banyak kemajuan yang dicapai di dalam penyusunan standar dan/atau ketentuan yang terkait dengan bangunan di daerah rawan gempa. Dengan diberlakukan konsep Performance Based Design (PBD) yaitu konsep yang mendasarkan perencanaan struktur berdasarkan performance yang dikehendaki saat terjadi gempa (terutama gempa dengan kekuatan besar), diharapkan bangunan lebih memiliki ketahanan yang cukup kuat khususnya dalam rangka upaya perlindungan terhadap jiwa manusia.

Namun demikian perlu disadari bahwa konsep PBD ini menuntut pengetahuan lanjut bagi para perekayasa konstruksi, mengingat banyaknya aspek yang harus diperhatikan dan diperhitungkan di dalam merencanakan struktur dan perkuatannya. Untuk itulah diperlukan pemahanan lebih dalam terhadap standar yang terkait dengan perencanaan tahan gempa untuk bangunan gedung.

HAKI sebagai assosiasi berhimpunnya para perekayasa konstruksi perlu melakukan penyebar-luasan informasi tentang standar perencanaan bangunan tahan gempa ini secara berkelanjutan. Untuk itu kegiatan kursus-kursus singkat dan periodik yang selama ini dilakukan diharapkan dapat membantu pemerintah di dalam meningkatkan pemahaman para pelaku di bidang industri jasa konstruksi tentang struktur bangunan di daerah rawan gempa.

Mengenai bangunan di daerah rawan gempa (bangunan tahan gempa) lebih lanjut saya berbagi di isigood.com (silakan klik disini)

(Hotma Prawoto)

 

 

Hotma Prawoto Sulistyadi

Hotma Prawoto Sulistyadi adalah praktisi struktur bangunan gedung yang mulai menggeluti dunia konstruksi sejak tahun 1978, sejak masih berstatus sebagai mahasiswa Bagian Teknik Sipil, Fakultas Teknik UGM.

Saat ini Hotma tercatat sebagai anggota Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Komda Yogyakarta, dengan NPA 95026/B, dan pemegang sertifikat keahlian dari HAKI dan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) nomor 0168033, dengan nomor registrasi Ahli Teknik Bangunan Gedung nomor 1.2.201.2.025.09.1063660

Selain menjadi tenaga pengajar tetap di Departemen Teknik Sipil, Sekolah Vokasi UGM, sejak tahun 1985, Hotma juga menjabat sebagai Direktur Sekolah Vokasi, masa bakti 2012 sampai 2016.

Tahun 2014, Hotma dipercaya sebagai Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Vokasi se Indonesia (FKPTVSI) untuk masa bakti 2014-2015.

Info lebih lanjut tentang Hotma Prawoto Sulistyadi dapat di klik disini.